Air dan Perubahan Iklim

Polemik Revisi UU KPK: Perppu Justru Lebih Liar

Yunani Abiyoso, Pengajar Hukum Tata Negara FHUI (baju putih).

Jakarta - Pengajar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Yunani Abiyoso menyebut bahwa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) terkait UU KPK hasil revisi Presiden justru lebih liar.


"Perppu ini justru lebih liar, karena sifat subjektivitas Presiden. Khawatir Perppu ini keluar bisa jadi besok, bisa nanti malam, bisa dua hari. Tau-tau keluar substansinya ngga sesuai keinginan." kata Yunani dalam acara Ngaji Konstitusi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada Jumat (12/10).

Ia menjelaskan jika membandingkan substansi UU dengan Perppu, UU lebih memiliki partisipasi publik dan masih dapat dikritisi. Meski partisipasi UU KPK yang sebelumnya minim.

Peneliti Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI), Muhammad Rizaldi, berkata bahwa adanya pelemahan UU KPK dalam hal Dewan Pengawas KPK yaitu pasal fungsi terhadap eksekusi izin pada penyadapan, penggeledahan, dan/atau penyitaan.

Ini juga didukung dengan Yunani yang menjelaskan ada kelemahan kelembagaan negara dalam hal tersebut. "Kewenangannya siapa sih di Indonesia? Kalo berkaca dari luar, penyadapan atau penyitaan ini adalah kewenangan peradilan dari skema peradilan hukum pidana, semua dikontrol oleh hakim atau ketua pengadilan. Tapi kalo di Indonesia ngga, ada kewenangan TNI juga bisa nyadap, belum jelas sih kita memang. Secara hukum harus dipikirkan masalah penyadapan ini."

Sementara itu, ia juga berharap dalam proses Perppu ada partisipasi publik dari berbagai lembaga hingga Badan Eksekutif Mahasiswa untuk terus mengarahkan dan berdiskusi secara aktif terkait keberlanjutan Perppu yang diinginkan. (Reporter & Fotografer: Fathania N. L. A)

Manik Marganamahendra, Ketua BEM UI 2019 (baju biru). Mustafa Fakhri, Ketua PSHTN FHUI (tengah). Muhammad Rizaldi MaPPI FHUI (jaket abu-abu).

Diet Sehat Atasi Perubahan Iklim


Pernahkah kalian menyadari bahwa ketika memakan daging-daging dari hewan, ia akan berdampak pada lingkungan terkhusus perubahan iklim? Tahukah kalian kebakaran hutan di Brazil disebabkan oleh peternakan hewan, industri pakan ternak, dan turunannya? Inilah yang membuat Burgreens dan Uni Eropa membuat salah satu kegiatan yang bertajuk Cooking Demo and Youth Responsible Production and Consumption, the Mediterraniean Way dalam rangkaian EU Climate Diplomacy Week 2019. Kegiatan ini berlangsung pada hari Kamis, 3 Oktober 2019 di Istituto Italiano di Cultura Jakarta.


Nyatanya, umur bumi sudah 11 tahun lagi dengan suhu 1,5 derajat. Jika sudah sampai 3 derajat, maka sudah tidak ada titik point untuk kembali mengembalikan bumi seperti sebelumnya. Maka dari itu, Burgreens mengajak untuk memulai diet sehat memakan sayur-sayuran yang justru memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. "Kalau semua orang bisa melimit animal productsnya 9% tapi dengan dilakukan semua orang, kita akan bisa nge-proceed. Banyak orang yang di desa udah ngelakuin ini, makan daging hanya saat kurban misalnya," ungkap Helga Angelina, co-founder dari Burgreens. 

Gaya hidup dari orang kota yang sudah terbiasa memakan daging adalah hal yang harus diubah. Bisa dilihat jika kita melihat infografik di atas (sumber: burgreens), sebanyak 51% emisi gas dari ternak dan proses produksinya dan 13% transportasinya menyumbang perubahan iklim. Bahkan untuk membuat 1 hamburger, air yang digunakan bisa 660 galon setara dengan air untuk mandi manusia sebanyak 2 bulan. Sampah dari perternakan 2500 susu perah setara dengan sampah dari 4111000 orang dari kota. 
Untuk itu, Burgreens dan EU setelah sesi diskusi ini, mereka juga mengadakan demo masak dengan menggunakan bahan-bahan hijau alias sayur-mayur dan buah-buahan. Mengapa sih dibutuhkannya Vegan Diet ini, hal ini karena sampah dan emisi yang dihasilkan daripada daging-daging sangatlah ramah terhadap lingkungan. Sobat tidak perlu khawatir, untuk nutrisi dari buah dan sayur pun tetap banyak yang tinggi. Misal pada tempe memiliki protein yang juga tinggi. Kalsium tertinggi bahkan ada pada sayur bayam dan juga biji wijen, bukan pada susu. Sehingga hal ini bisa menjadi acuan bagi sobat untuk menjalankan hidup sehat dengan melindungi alam.



Terdapat salah satu tips untuk mereka yang tidak menyukai sayur terutama yang berwarna hijau dan rasa sayurnya. Yaitu dengan cara membuat smoothies, dengan takaran 70% buah dan 30% sayur. Buah pun dipakai yang berwarna dominan seperti naga, untuk menghilangkan warna hijaunya. "Kalo misalnya banyak yang gak suka sayur, it works all the time. Sayuran hijau ini merupakan makanan yang paling sehat," ungkap Max Mandias, chef sekaligus co-founder dari Burgreens.
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Fathania Nazmi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review